PMI Matangkan Konsep LSP-LK Pertama di Indonesia


CERITARELAWAN.ID, Semarang - Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI) Sudirman Said mempertegas pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi Layanan Kemanusiaan (LSP-LK) di Indonesia. Pematangan skema sertifikasi sejumlah layanan kemanusiaan dibahas perwakilan bidang layanan di Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) PMI Provinsi Jawa Tengah, Semarang pada 18 hingga 20 April. LSP disebut Sudirman akan mencetak relawan yang cakap dan bertanggungjawab dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

Sudirman melanjutkan sebagai profesi, pelayan kemanusiaan wajib memiliki batas pengetahuan yang jelas, etika, serta organisasi yang mengatur etika tersebut. PMI sendiri, kata Sudirman, telah memiliki etik yang diawasi dewan etik. Selanjutnya, lanjut Sudirman, PMI tinggal memperkuat bangunan pengetahuan profesi pelayanan kemanusiaan tersebut.

"Pelayan kemanusiaan adalah profesi, ada bangunan pengetahuan, ada etika, ada organisasinya. Bahwa menjadi relawan PMI itu perlu diklat, kita sedang menata puzzel itu dalam rangka transformasi, nanti hulunya ditata, hilirnya ditata juga," tegas Sekjen saat membuka Diskusi Skema LSP Layanan Kemanusiaan di Aula Pusdiklat PMI Jateng, Semarang.

Sedikitnya ada 6 klaster pelayanan kemanusiaan yang disusun PMI dalam skema LSP-LK tersebut. Klaster pertama terdiri dari skema distribusi cepat, skema kaji cepat, dan manajemen hunian pengungsi. Pada klaster kedua, ditetapkan skema Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), skema pengkajian, dan skema pemberdayaan. Sejumlah ahli PMI menambahkan skema promosi kesehatan, skema penanganan pandemi, skema air bersih dan sanitasi, skema pencarian, penyelamatan dan layanan ambulans, skema Physicosocial Program Support (PSP), dan skema pertolongan pertama pada klaster ketiga.

"Klaster keempat ada kesehatan dan keselamatan kerja, kelima ada skema donor darah, dan terakhir skema senior trainer, master trainer dan sekma junior trainer," imbuh mantan Deputi Kepala Badan Pelaksana Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias tersebut.

Upaya membentuk LSP-LK PMI ini dinilai Sudirman juga merupakan upaya menguatkan kelembagaan PMI secara regional maupun regional. Transfer pengetahuan, katanya, bisa dilakukan antar Palang Merah melalui lembaga tersebut.

"Bukan tidak mungkin relawan kita jadi fasilitator di negara lain, setidakPMI Matangkan Konsep LSP-LK Pertama di Indonesia

SEMARANG, JATENG-Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI) Sudirman Said mempertegas pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi Layanan Kemanusiaan (LSP-LK) di Indonesia. Pematangan skema sertifikasi sejumlah layanan kemanusiaan dibahas perwakilan bidang layanan di Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) PMI Provinsi Jawa Tengah, Semarang pada 18 hingga 20 April. LSP disebut Sudirman akan mencetak relawan yang cakap dan bertanggungjawab dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

Sudirman melanjutkan sebagai profesi, pelayan kemanusiaan wajib memiliki batas pengetahuan yang jelas, etika, serta organisasi yang mengatur etika tersebut. PMI sendiri, kata Sudirman, telah memiliki etik yang diawasi dewan etik. Selanjutnya, lanjut Sudirman, PMI tinggal memperkuat bangunan pengetahuan profesi pelayanan kemanusiaan tersebut.

"Pelayan kemanusiaan adalah profesi, ada bangunan pengetahuan, ada etika, ada organisasinya. Bahwa menjadi relawan PMI itu perlu diklat, kita sedang menata puzzel itu dalam rangka transformasi, nanti hulunya ditata, hilirnya ditata juga," tegas Sekjen saat membuka Diskusi Skema LSP Layanan Kemanusiaan di Aula Pusdiklat PMI Jateng, Semarang.

Sedikitnya ada 6 klaster pelayanan kemanusiaan yang disusun PMI dalam skema LSP-LK tersebut. Klaster pertama terdiri dari skema distribusi cepat, skema kaji cepat, dan manajemen hunian pengungsi. Pada klaster kedua, ditetapkan skema Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), skema pengkajian, dan skema pemberdayaan. Sejumlah ahli PMI menambahkan skema promosi kesehatan, skema penanganan pandemi, skema air bersih dan sanitasi, skema pencarian, penyelamatan dan layanan ambulans, skema Physicosocial Program Support (PSP), dan skema pertolongan pertama pada klaster ketiga.

"Klaster keempat ada kesehatan dan keselamatan kerja, kelima ada skema donor darah, dan terakhir skema senior trainer, master trainer dan sekma junior trainer," imbuh mantan Deputi Kepala Badan Pelaksana Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias tersebut.

Upaya membentuk LSP-LK PMI ini dinilai Sudirman juga merupakan upaya menguatkan kelembagaan PMI secara regional maupun regional. Transfer pengetahuan, katanya, bisa dilakukan antar Palang Merah melalui lembaga tersebut.

"Bukan tidak mungkin relawan kita jadi fasilitator di negara lain, setidaknya di regional," tukas Sudirman. (amin)
CERITARELAWAN.ID
CERITARELAWAN.ID CERITARELAWAN.ID Portal informasi relawan dan umum, memiliki konten News, Pendidikan, Kesehatan, Sosial, dan Wisata

Post a Comment for "PMI Matangkan Konsep LSP-LK Pertama di Indonesia"

BACA JUGA
close