Layanan Kesehatan Keliling untuk Pengungsi Gaza



ceritarelawan.id, El Arish - Layanan kesehatan primer sangat dibutuhkan di tempat penampungan informal di Jalur Gaza. Untuk memastikan pengungsi Gaza mendapatkan layanan kesehatan, Palang Merah Indonesia (PMI) bekerjasama dengan Lembaga Bantuan Medis di Gaza melakukan layanan kesehatan keliling maupun door to door dari tenda ke tenda. Hal ini untuk membantu warga pengungsi yang dalam kondisi sakit untuk mendapatkan akses dan penanganan medis. 

“Layanan kesehatan keliling ini merupakan upaya PMI dalam mendekatkan akses kesehatan bagi warga pengungsi yang sakit. Bagi warga yang sakit namun tidak memungkinkan beranjak ke fasilitas kesehatan darurat, mereka mendapatkan layanan door to door dari tenda ke tenda,” kata Arifin Muh Hadi, Kepala Markas Pusat PMI yang juga sebagai Ketua Tim Misi Kemanusiaan PMI untuk Gaza.

Target layanan Kesehatan keliling PMI tahap pertama ini ditargetkan untuk 1.000 pasien. Setelah target tercapai, PMI akan terus melanjutkan layanan kesehatan tersebut dan menyasar ke beberapa penampungan darurat lainnya. 

Pendekatan layanan kesehatan keliling ini sangat efektif mengingat jumlah rumah sakit yang beroperasi semakin berkurang, sementara itu kapasitas tampung pasien di rumah sakit yang ada juga sangat terbatas.

Ditambahkan Ridwan Sobri Carman selaku Kepala Penanggulangan Bencana PMI Pusat yang juga berada di El Arish, PMI menurunkan tenaga dokter dan perawat dalam menjalankan layanan kesehatan keliling ini. 

“Tim Medis mitra PMI di wilayah Gaza yang kami mobilisasi terdiri dari 2 tim, masing-masing tim didukung oleh 1 dokter dan 2 perawat. Kedua tim medis ini terus menyasar beberapa penampungan pengungsi di Rafah Gaza maupun Younis,” jelas Ridwan Sobri.

Laporan situasi dari UNRWA atau Agensi Pekerjaan dan Pemulihan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungs Palestina di Timur Dekat menjelaskan, fungsi dan akses pelayanan kesehatan sangat terganggu akibat terbatasnya akses listrik dan air. 

Pelayanan kesehatan semakin berkurang yang kini hanya berjumlah empat dari 22 pusat layanan kesehatan UNRWA beroperasi. Hal ini menimbulkan bencana kesehatan yang luar biasa. 

Suhu dingin di wilayah Gaza dan sekitarnya serta tingginya peningkatan angka kematian dan cedera akibat pemboman dan kekerasan sangat mengkawatirkan kondisi pasien. 

Penanganan operasi medis terpaksa harus 
dilakukan tanpa fasilitas yang memadai serta tidak tersedianya cairan anestesi. 

Badan WHO menekankan perlunya peningkatan cakupan imunisasi rutin serta penyediaan obat penyakit tidak menular, psikotropika, dan anestesi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat dan mencegah penyebaran penyakit  menular.

Pendirian rumah sakit lapangan di wilayah lain di Jalur Gaza sangat penting untuk mengakomodasi kebutuhan medis penduduk setempat. 

Masyarakat tidak dapat mengakses layanan kesehatan secara efektif karena kurangnya peralatan laboratorium dan reagen yang diperlukan untuk diagnosis dan pengujian 
yang akurat.

Dalam siaran persnya, WHO secara tegas juga menyerukan adanya gencatan senjata 
segera dan adanya perlindungan tenaga medis dan fasilitas layanan kesehatan, 
sehingga penanganan korban luka berat dapat tertangani dengan baik. Seluruh sarana dan personal kesehatan harus dijaga keamanan dan keselamatan, ini bukan 
target serangan. 

Karena pelayanan kesehatan sangat tergantung pada pasokan bahan bakar untuk kelistrikan, maka perlu tindakan segera memperluas dan 
mempertahankan akses kemanusiaan ke Gaza untuk bahan bakar, air, makanan, 
obat-obatan dan pasokan lain yang diperlukan. 

Memperluas koridor kemanusiaan 
dan memastikan jalur yang aman untuk memungkinkan pengiriman bantuan 
kemanusiaan di Gaza serta menetapkan dan memperkuat proses rutin evakuasi 
medis bagi semua pasien yang membutuhkan. (min)
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url